Kamis, 28 Oktober 2010

Tangisan cantik

Ketika satu tangan manusia terbuka, seakan ada harapan kecil yang terdapat disana.

Disisi lain, ada dua tangan yang terbuka yang memeluk lembut tubuhku dan kamu dengan penuh rasa gairah sukacita.

ketika kemarahan melanda jiwa yang merasa tidak menerima dirinya, dan seakan tanduk merah tumbuh karena terbakar.

ada satu sisi putih indah yang bercahaya, bersayapkan dengan luar biiasa dan silau cahaya yang membawa senyuman dalam kehidupan.

Ketika satu sosok yang ingin menjadi dewasa dengan segala hal dan sesuatu yang bisa ia lakukan dan perbuat.

Sisi lain yang ingin selalu menjadi anak kecil yang polos dan seakan tidak memiliki beban hidup yang dapat membunuh diri.

Tangisan-tangisan cantik menetes dipipiku, betapa lembutnya hingga menembus jiwa. Segala perasaan campur menjadi satu. Sakit mengingat kebaikan dan segala kasih yang aku terima dengan pelukan hangat dan tidak dapat terbalaskan.

Aku hidup

aku selalu menjadi teratas, karena dirinya rela untuk menjadi yang terbawah.

aku selalu menjadi pemenang, karena diirinya rela terkalahkan dengan telak.

aku selalu menjadi kaya raya, karena dirinya rela teramat miskin hingga meronta.

aku selalu dipermuliakan, karena dirinya rela dihina bagai orang yang tidak layak.

aku selalu berharga, karena dirinya rela tidak memiliki harga sedikitpun.

aku selalu menjadi kepala, karena dirinya rela menjadi ekor.

aku selalu tersenyum dan tertawa, karena dirinya rela menangis darah.

aku selalu berhasil dalam segala hal, karena dirinya rela untuk gagal.

Dan aku hidup, karena dirinya rela mengorbankan nyawanya.

aku hanya dapat berkata, bahwa aku bangga dan merasa sanget berharga memiliki Bapa seperti diri-Nya.

Selasa, 26 Oktober 2010

voice

when a voice like a shout in the ears in a small box that echoed.

matching in the echoes with the pounding that penetrate the soul in man.

who speaks like a lighthouse in the darkness until the light of a warm greeting.

ear seemed to be a special intermediary exposed to the world about all that in tune.

undermine souls, sounds like a long, curved beak is not sound.

suara

ketika suara mendengungkan telinga bagai berteriak di dalam kotak kecil yang menggema.

dalam gema yang senada dengan hentak jiwa yang merasuk dalam diri manusia.

bagai mercusuar yang berbicara dalam kegelapan hingga terang menyapa hangat.

seakan telinga menjadi suatu perantara khusus untuk diperdengarkan kepada dunia tentang segala yang seirama.

jiwa-jiwa yang merongrong , melatuk bagai paruh panjang yang membengkok tidak terdengar suara.

Kamis, 21 Oktober 2010

Kepal tangan

Ketika jari-jarimu kaku seakan sulit untuk melipat tanganmu dan menyuarakan suaramu. Sewaktu pikiranmu terkuras dengan waktu-waktu yang tidak menentu, itu seakan meretakan otak sebelah kanan, kiri, maupun bagian tengah.

Dari helai yang paling ujung, sampai ke akar selalu membakar kata yang susah terucap. Petikan-petikan gitar yang tua, bagai syair yang merdu meringankan hati.

Apalah kiranya, waktu dan hembusan nafas yang kau punya bila kau gantikan dengan kepalan tanganmu yang tertutup halus dan lembut.

Angin menyiur lambai dengan merdunya, seakan dia tidak mengetahui beban yang berada diubun-ubun kepala.

Dear : Father in Heaven

Bilaku renungkan sungguh benar-benar aku beruntung dapat mengenalMu dan merasakan kasihMu..

Ketika kubayangkan dan mempertanyakan mengapa Kau menyelamatkanku, selalu kubersyukur Kau selalu ada dalam dihidupku..

Meskipun dunia ini tak akan pernah mengerti, mengapa diriku teramat mengasihiMu. Suatu saat nanti semua pasti akan terbukti, bahwa Kau adalah pilihan terbaikku, seumur hidupku..

Kamis, 14 Oktober 2010

Tidurlah


Badan yang kusam melanda dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan kelopekan sedikit diwajah yang nyaris meah kecokelatan.

Suara-suara tawa dan gelinding roda yang menderu hanya angin lalu baginya.

Sesuap yang sulit untuk masuk ke dalam perut yang hampir busuk, sisa-sisa yang ada diterimanya dengan sukacita.

Lantai yang keras bagai batu kali seakan pulau kapuk yang tidak ada tandingannya, dan seakan air liur yang mengalir bagai hujan kebahagiaan.

Pagi, siang, malam, tidak ada arah kemana hendak berjalan. yang ia tahu hanya berjalan,berjalan, berjalan, dan berjalan tanpa tujuan.

Tangkaplah mimpimu beserta kesenangan alam tidurmu yang hanya sementara, dan tidurlah.



Pelangi yang dijanjikan

Ketika tapak kaki yang melangkah telah renta, hentakan nyaris tak terdengar, seakan tangan sukar untuk terkepal.

Ketika dada dan jantungmu disobek bagai kertas, urat kakimu bagai tertarik hingga ke atas, dan itu hanya untuk alat penyambung nafasmu.

Ketika kehidupan antara dunia dan akhirat, dua belas jam berputar dan suara detik bagai meneriakkan kesakitan, kehancuran, dan rasa kehilangan.

Ketika darah menghilang dan dicari entah kemana, seakan mencabik dan menarik jiwa seakan ingin menggantikan rasa sakitnya.

Ketika suara doa mengalun di udara, panggilan-panggilan harapan dipanjatkan, dan tangisan tergerai dari satu sisi, ke sisi lain yang tak terlihat.

Ketika kelumpuhan ujung jari kaki telah berada di dua roda yang mengapung dilantai, tangan-tangan lain yang menjamah dengan belas kasihan.

Ketika tapak jalan, semangat hidup, kekuatan, sukacita,  lenyap seakan hanya menjadi kenangan.

ketika sentuhan kasih sayang, semangat didobrak,  suara doa dipanjatkan,  semua seperti pelangi yang dijanjikan.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Tersenyum

Ketika bercermin yang  dapat dilihat hanyalah tubuh, tapi engkau tidak menahu tentang sisi lain dalam dirimu. Ketika engkau tersenyum, apakah engkau berusaha untuk membuat tersenyum sisi lain dari padamu?.

Semata-mata hanya seniman yang bisa menerima sisi itu dengan khayalan ataupun pikiran. Semata-mata hanya penyair yang dapat menyerukan, dan meneriakkan tentang hal itu.

Dunia khayal mungkin menyakitkan, tetapi akan indah pada waktunya ketika engkau berfikir dengan telanjang bersih.

Jadikan senyummu seperti anak-anak kecil yang terlihat sukacita dengan penderitaan yang ada di depan batang hidung mereka. Karena, dengan itu senyummu jauh lebih berharga untuk sisi yang lain.